Kamis, 29 Maret 2012

Essay


 

              Essay merupakan sebuah karangan prosa yang membahas sebuah topik melalui sudut pandang pribadi penulisnya. Essay dan karya tulis berbentuk opini adalah hal yang sama. Opini adalah isinya dan karya tulis adalah karya tulisnya.
Bagaimana Cara Menulis Essay?
Sebelum anda membuat essay, alangkah baiknya jika anda membuat pertanyaan mengenai suatu topik. Setelah itu, anda bisa menggali jawaban-jawaban dari pertanyaan yang telah anda buat, dari jawaban-jawaban itulah anda bisa menarik kata kunci yang kemudian bisa dianalisis lebih jauh untuk menjadikan sebuah karya tulis yang baik.
Bagaimana Menganalisis kata kunci secara mendalam?
Nah Disilah peran Membaca, anda akan mampu memahami dengan baik mengenai sebuah topik yang anda angkat dan mengembangkan argumen pada karya tulis yang anda buat. Dalam memilih bacaan sebaiknya diperhatikan :
Apakah berhubungan dengan topik yang saya pilih?
Apakah bacaan ini mendukung jawaban saya atas pertanyaan yang sudah saya pilih?
Apakah bacaan ini mampu mengembangkan argumen-argumen saya?
Apa yang harus dilakukan setelah anda membaca?
Setelah merumuskan sebuah pertanyaan, anda dapat mencri jawaban-jawabannya dengan membaca. Saat membaca, biasakan mencatat apa saja yang bisa diambil darinya. Karena tidak semua ingatan orang itu KUAT, opsi mencatat sangat dianjurkan supaya tidak kehilangan poin-poin penting.
Menyusun Ide dan Mulailah membuat Essay!
Anda sudah memiliki sebuah pertanyaan mengenai sebuah topik. Anda sudah mencatat poin-poin yang mampu mendukung jawaban-jawaban anda atau argumen anda. Sekarang apa lagi?
Nah, anda harus mulai menyusun catatan-catatan tadi dalam suatu bentuk jawaban. Putuskan poin-poin yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan tadi. Anda harus mengkaji dan menentukan poin mana yang akan anda bahas terlebih dahulu.
Membuat kerangka sederhana adalah cara paling efektif untuk mengkomunikasikan ide dan jawaban-jawaban anda yang biasanya meliputi:
Pendahuluan, yakni menceritakan secara singkat mengenai ide pertanyaan dan jawaban yang telah anda siapkan.
Isi, yakni bagian dimana anda menjawab pertanyaan yang sudah anda buat dengan cara mengembangkan argumen-argumen anda.
Kesimpulan, yakni fase dimana Anda menunjukan bahwa anda telah menjawab pertanyaan yang sudah dibuat. “jangan memasukan informasi baru dalam bentuk apapun( jawaban, argumen, dll) diluar isi yang sudah anda jabarkan.”
Semoga membantu, dan sesuai kepahaman anda, mulailah membuat Essay! 

beberapa contoh karya tulis : 

Cendikiawan Muda Berakhlak Mulia
Oleh Muh. Imam Nurhidayat
Sering kita dengar istilah cendikiawan, yang identik dengan orang-orang yang berfikir secara ilmiah dan mempunyai intelektual tinggi. Harapan-harapan masyarakat Indonesia akan cendikiawan muda yang memberikan contoh-contoh baik yang mampu memajukan masyarakat masih sangat langka. Banyak didapati para cendikiawan muda di Indonesia, tetapi bentuk kontributif nyata ke masyarakat secara fungsional sangatlah sedikit. Karena itulah salah satu alasan bahwa cendikiawan yang kontributif secara nyata tetap menjadi harapan-harapan besar masyarakat Indonesia yang dapat memajukan masyarakat menjadi lebih madani.
Akhlak merupakan karakter yang sangat dominan yang menggambarkan pribadi seseorang. Akhlak adalah cermin diri seseorang, yang menjadi landasan besar orang lain untuk menilai orang itu. Dan menjadi penilaian besar seseorang itu apakah patut untuk menjadi tauladan ataukah tidak.
Cendikiawan muda yang berakhlak mulia adalah harapan utama masyarakat Indonesia, yang memajukan dan patut menjadi contoh bagi  masyarakat dan generasi-generasi penerus. Dan jiwa yang membawa kepada perubahan juga menjadi salah satu harapan masyarakat dan bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik dan produktif. Orang berpengaruh sangat dibutuhkan sekarang ini untuk mengelola dan memajukan masyarakat, karena sumber daya manusia di Indonesia belum mencukupi untuk mengolah kekayaan sumber daya alam yang ada. Maka dari itu masyarakat membutuhkan sosok pembimbing untuk menuntunnya menuju hal-hal yang lebih baik dan produktif. Salah satu sosok pembimbing  yang menjadi orang berpengaruh adalah para cendikiawan yang berani berkontribusi secara nyata kepada masyarakat.
Salah satu modal untuk merangkul hati masyarakat adalah dengan akhlak. Akhlak mulia adalah hal yang harus dimiliki oleh para cendikiawan, yang menjadi landasan kepercayaan masyarakat akan para cendikiawan. Dengan kepercayaan, cendikiawan akan mudah mengelola masyarakat untuk melangkah lebih maju dari sebelumnya.
Untuk menjadi sosok seorang yang berakhlak mulia adalah dimulai dari diri sendiri. Karena ia harus konsekuen antara keyakinan, pembicaraan, dan perbuatannya. ia harus mampu memimpin dirinya sendiri, selalu introspeksi diri, hingga benar-benar mampu menunjukan bahwa dirinya pribadi yang baik, disukai dan dipercaya masyarakat. Sehingga ia siap untuk memimpin orang lain. Masyarakat akan mempunyai respect positif terhadap orang-orang yang seperti ini.
Dengan para cendikiawan yang berkontributif secara nyata diharapkan mengangkat derajat sumber daya manusia (SDM), mampu membimbing dan memajukan masyarakat. Tidak peduli seberapa besar hasil dan pengaruh cendikiawan terhadap kemajuan masyarakat yang dikelolanya, tetapi melalui proses yang mereka hadapi, dan keberanian mereka berkontribusi sudah menjadi hal yang sangat besar untuk mewujudkan kejayaan masyarakat Indonesia.


Kontribusi Cendikiawan Terhadap Masyarakat
Oleh Muh. Imam Nurhidayat
Istilah cendikiawan yang sudah umum dan sering kita dengar, yang dilihat sebagai suatu hal yang sangat bagus dalam asumsi kita. Cendikiawan atau orang yang mempunyai jiwa intelektual yang luas dengan pemikiran-pemikiran ilmiah yang menjadi keinginan dan sesuatu hal yang menggebu-gebu serta diidam-idamkan. Banyak terdapat jiwa-jiwa berintelektual tinggi di zaman yang modern seperti sekarang ini, tapi masih sedikit sekali cendikiawan berintelek tinggi yang benar-benar berguna bagi masyarakat, yang benar-benar berkontributif nyata kepada masyarakat. Dan apa gunannya memiliki intelektual tinggi tetapi tidak dapat disalurkan dengan baik kepada masyarakat. Bahkan ada yang tidak tersalurkan sama sekali, alias hanya untuk kepentingan diri sendiri. Begitu mirisnya dan egoisnya jiwa-jiwa ini.
Banyak para intelek yang sombong dan bangga terhadap dirinya sendiri atas ilmu yang mereka miliki. Mereka merasa dengan hasil besar membawa kemakmuran, kemakmuran apa? Untuk dirinya sendiri, bukannya kemajuan yang didapat tetapi kemerosotan moral yang terjadi. Makanya masih banyak disana sini kesenjangan yang terjadi. Hal ini menunjukan masih sedikitnya kepekaan sosial dan juga menunjukan pentingnya kontribusi terhadap masyarakat yang secara otomatis memajukan bangsa dan negara tercinta ini.
Kontributif sendiri tidak terbatas dengan hal-hal ini itu, tapi memikirkan sesuatu hal yang baru, produktif dan dapat dinikmati serta berguna bagi masyarakat adalah suatu hal yang kontributif, apapun itu! Besar ataupun kecil, sederhana maupun megah, dan seterusnya. Jadi tedapat banyak sekali peluang yang bisa dilakukan untuk berkontribusi kepada masyarakat walau bukan seorang cendikiawan sekalipun.
Bentuk-bentuk kontributif sendiri yang abstrak karena setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Kontribusi tidak harus mengadakan suatu kegiatan, tetapi dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat pun adalah kontribusi. jadi dengan kontribusi, menentukan pandangan dan peran kita dalam masyarakat. Masyarakat akan menilai seseorang dalam hal ini. Walaupun seorang itu tidak berintelektual luas, tetapi ia berpartisipasi dan berkontribusi ke dalam masyarakat, akan lebih dipandang baik oleh masyarakat daripada seorang yang berintelektual luas tetapi hanya berdiam diri, tidak menggunakan jiwa dan kelebihannya kepada masyarakat.
Pemuda-pemudi adalah salah satu harapan bangsa, disaat itulah semangat masih menggebu-gebu, waktu masih lapang, pikiran masih jernih, dan banyak hal yang bisa dilakukan di masa ini. Orang yang berkecukupan saja ilmunya bisa menjadi sosok yang besar karena langkah awalnya dengan berani berkontribusi. Dan sekarang banyak didapati cendikiawan yang berintelektual luas, hanya saja mereka tidak ada keberanian untuk terjun ke masyarakat. Dan banyak cendikiawan yang berintelek luas juga memiliki keberanian tapi dia egois, mementingkan diri sendiri. Bahkan ada yang rela membodohi orang lain ataupun masyarakat hanya untuk kepentingan dan keinginan dirinya sendiri. Itulah kebanyakan jiwa intelektual Indonesia.
Penyalahgunaan ilmu sekarang ini banyak sekali terjadi. Intelektual yang seharusnya memajukan bangsa dan negara Indonesia, tetapi banyak intelek yang menggunakannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Korupsi, jual beli hukum, dan sebagainya sangat sering kita dengar di negara ini, sampai panas kuping ini mendengar isu-isu yang tidak kunjung tuntas penyelesaiannya. Hukum sudah tidak tegak lagi. Moral sudah tak berarti lagi. Peri-peri kemanusiaan tak dihiraukan lagi. Smua itu hanya karena egoisme kepentingan diri sendiri. Disinilah masyarakat berharap besar kepada munculnya sosok cendikiawan muda yang intelektual, prestatif, kontributif, isolutif, yang diimbangi dengan spiritual.
Maka dari itu, jiwa-jiwa intelektual perlu digugah kembali. Menjadikan cendikiawan dengan intelektual yang dimilikinya dapat tersalurkan dan teraplikasikan dengan baik kepada masyarakat. Karena masyarakat tidak bisa menunggu, tetapi hadirlah para cendikiawan muda yang berpengaruh tanpa egoisme, yang intelektual, prestatif, kontributif, isolutif, spiritual, yang benar-benar berguna bagi masyarakat. Dengan jiwa-jiwa seperti inilah yang akan membawa kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. para cendikiawan muda, kalau bukan kita siapa lagi.




2 komentar: